130 views

Nelayan Lampung Timur Resah Maraknya Jaring Trawl, Hasil Tangkapan Turun 90 Persen

Media Abpedsi.com,
Labuhanmaringgai – Pesisir laut di Lampung Timur menyimpan persoalan lama yang siap menjadi bom waktu.

Ya, persoalan ini adalah masih maraknya kelompok nelayan yang beraktivitas menangkap ikan secara ilegal, yakni menggunakan jaring trawl.

Zainal Abidin, seorang nelayan di Desa Karangayar Kecamatan Labuhanmaringgai menceritakan, aktivitas kelompok nelayan jaring trawl sudah ada sejak 2004. Saat itu jumlah kelompok nelayan jaring trawl hanya 70 perahu. “Sekarang ini kami sudah mendata 190 perahu menggunakan jaring trawl. Bisa jadi jumlahnya lebih dari 200 perahu, sebab itu diluar data kami,” kata dia kepada Saibumi.com, Senin 20 Maret 2017.

Dia mengaku, para nelayan kecil sudah menyampaikan persoalan ini ke Kementerian Kelautan dan Perikanan. Namun perbuatan ilegal itu tidak pernah ditindak karena banyak oknum birokrasi dan aparat penegak hukum yang terlibat didalamnya. “Apalagi kabarnya mau ada perpanjangan operasional perahu trawl. Kalau memang sudah begitu, kami para nelayan kecil menolak dan demo,” ujarnya.

Sementara itu, Supriyanto seorang nelayan lainnya mengaku, para nelayan kecil sudah resah dengan aktivitas kelompok nelayan jaring trawl. “Nelayan trawl menangkap ikan dari yang besar hingga kecil. Akibat maraknya jaring trawl ini menyebabkan hasil tangkapan kami selaku nelayan kecil turun 90 persen,” ungkapnya.

Padahal pelarangan Jaring Trawl sudah jelas dituangkan dalam Keppres Nomor 39 Tahun 1980 tentang Penghapusan Jaring Trawl, dimana semua Jaring Trawl tidak dapat lagi beroperasi diselurh perairan Indonesia
Pukat Langgai (Pukta Dorong), Pukat Layang dan Pukat yang ditarik dengan 2 kapal berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor.02 Tahun 2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) termasuk Pair trawls dilarang untuk dioperasikan di seluruh wilayah WPPNRI
Alat penangkapan Ikan Trawl, Pukat Langgai (Pukta Dorong), Pukat Layang dan Pukat yang ditarik dengan 2 kapal berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor. 06 Tahun 2010 tentang Alat Penangkapan Ikandi WPPNRI merupakan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan yang tidak selektif serta beroperasi di Jalur Penangkapan I (0-4 Mil) sehingga menimbulkan konflik dengan nelayan kecil.

Aturan ini diperkuat dengan Surat Edaran Kementerian Kelautan dan Perikanan Nomor : b.1/SJ/PL.610/I/2017 tentang pendampingan pergantian alat penangkapan ikan yang dilarang beroperasi di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia.

Isi surat edaran ini menyatakan dlslam rangka menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungannya, Menteri KKP menetapkan Permen KKP Nomor 71/PERMEN-KP/2016 tentang jalur penangkapan ikan dan penempatan alat penangkapan olan di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia.

Peraturan menteri tersebut antara lain mengatur pelarangan penggunaan beberapa alat penangkapan ikan kelompok pukat hela (trawl) dan pukat tarik di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia. Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan permen tersebut, KKP dan pemerintah dalam jangka waktu enam bulan akan mengambil enam langkah pendampingan sesuai kebutuhan. Di antaranya, membentuk kelompok kerja penanganan pergantian alat penangkapan ikan yang melibatoan kementerian/lembaga terkait, memfasilitasi akses pendanaan dan pembiyaan melalui perbankan dan lembaga keuangan non bank, merelokasi daerah penangkapan ikan, mempercepat proses perizinan API pengganti yang diizinkan, memfasilitasi pelatihan penggunaan API pengganti, dan tidak menerbitkan SIPI baru untuk API yang dilarang.

Surat edaran ini ditujukan kepada gubernur, kepala dinas provinsi yang membidangi kelautan dan perikanan, dan para kepal unit pelaksana teknis lingkup KKP. Surat edaran ini ditandatangai atas nama Menteri Keluaran dan Perikanan Sekretaris Jenderal Sjarief Widjaja pada 3 Januari 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *