98 views

Demi Kursi Kades Aturan Kampanye Dilanggar

Media-Abpedsi
Lampung Timur-Dampak dari prilaku kandidad no urut 2 Subardan yang semau-mau dan diduga jadi jutawan dadakan.pasalnya dengan bahasa bersadaqoh namun pada saat mencalonkan diri kembali saat pilkades desa Mulyo Sari kecamatan Pasir Sakti ,Lampung Timur sehingga membawa suasana pilkades di desa setempat jadi memanas dan tak kondusif.

Permasalahan tersebut berawal ulah Subardan,(Kandidat calon kades,red) yang sebelumnya adalah kepala desa di Mulyo sari yang kini kembali mencalonkan diri dalam pilkades serentak (04/12/).

Adapun hal yang menjadu pemicu menjadi memanas tersebut adalah akibat calon no urut 2 ini diduga melakukan manipolitik dengan cara membagi-bagikan beras kepada warga yang jumlahnya sangat fantastis bila di hitung secara global dengan berdalih sodakoh. 

Calon Incamben tersebut membagikan beras kepada warga yang telah di kemas dalam plastik berwarna merah ini sejumlah 5kg/ satu kemasan plastik sehingga membuat warga menjadi gerah atas prilaku yang dibuatnya dinilai tidak mentaati peraturan yang ada dalam perbut nomor 37 tahun 2017. 

Dari hasil pantauan dan data yang dihimpun, dirinya Dalam perjalanannya membagi-bagikan beras tersebut menjadi sorotan warga jika dia (subardan,red) terindikasi memakai sistem Halal Haram Hantam (H3) sedangkan dia adalah mantan kades yang sementara cuti karna ikut kembali dalam kompetisi calon kades. 

Akibat perbuatannya sehingga gempar se- desa Mulyo Sari yang akhirnya di panggil ke kantor kecamatan pasir sakti, namun beberapa warga yang hadir tak mampu angkat bicara karna bahasa camat pasir sakti Titin Wahyuni mengatakan pada saat itu “permasalahan tidak usah di besar-besarkan dan jadi propokator, propokator harus di tangkap dan di kurung ini perintah”. 

Akibat bahasa tersebut salah satu tokoh di Pasir Sakti dan sekaligus dia juga wakil rakyat Lampung Timur yaitu wakil ketua komisi 3 DPRD Lamtim.

” Hi Teguh sangat menyayangkan bahasa yang di sampaikan camat setempat, karna menurutnya bahasa itu tak layak untuk di sampaikan oleh seorang camat, yang seharusnya jika sudah tau persoalannya seharusnya ini di tertibkan dengan di panggil mestinya begitu bukan mengatakan propokator lalu propokator yang mana inikan camat tidak bisa mensejukkan suasana kalau saya ada repot camat ini ngomongnya gak santun,” ujar Hi Teguh menirukan cerita anak buahnya yang ikut hadir di kantor kecamatan waktu itu.

Sebelum awak media beranjak dari kediamannya kembali Hi Teguh mengulang kata-katanya tepat di teras depan rumahnya dengan bahasa “tapi masalah ini tidak boleh dibiarkan, bahkan camat sebagai pemangku wilayah yang punya ini, kok tidak ada respon, tidak ada ini Bahkan malah katanya itu tidak  dan inikan propokatornya akan ditangkap. Inikan kurang ajar. Propokator yang mana.”ujarnya. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *