98 views

Polres Lamtim; Tolak Hoax dan Anti Ujaran Kebencian

Media-Abpedsi. com
Sukadana-Semakin maraknya berita Hoax dan ujaran kebencian saat ini di sosial media. Kapolres Lampung Timur AKBP Yudi Chandra Eliyanto mengajak masyarakat untuk melakukan Deklarasi Anti Hoax dan Ujaran Kebencian di halaman Polres Lampung Timur, Selasa (13/3 2018).

Pada kesempatan i
Tersebut, turut hadir Plt Bupati Zaiful Bukhari beserta jajarannya,Jajaran Polres Lampung Timur, Pelajar,Ketua KPU beserta anggota,Panwaslu Lampung Timur,TNI,Tokoh Masyarakat Serta Pemuka Agama dan Jurnalis Lampung Timur.

Dalam kegiatan tersebut AKBP Yudy Chandra Erlianto menghimbau agar jurnalis bekerja sesuai UU Pers & Kode Etik, Menolak produk berita yang bernuansa fitnah, SARA yang dapat memecah belah persatuan masyarakat, mengutamankan fakta secara profesional, independensi, netral dan pemberitaan yang berimbang.

“Dengan deklarasi ini, saya mengajak seluruh warga agar bijak dalam menggunakan media sosial, mengingat sekarang sudah ada Undang Undang ITE yang mengatur” ucapnya.

Senada diucapkan Plt Bupati Lampung Timur Zaiful Buchari, “Kami atas nama Pemerintah Lampung Timur menyambut baik dan mendukung atas deklarasi Anti Hoax dan Ujaran Kebencian. Jelang Pilkada ini mari kita tolak berita Hoax & tidak mudah terpancing olehnya. Saya Indonesia, saya Anti Hoax”. Pungkasnya.

Serupa dikatakan oleh Ketua IWO Lampung Timur Edi Arsadad mengatakan ” Saya sangat menyambut baik dan sangat setuju dengan kegiatan Deklarasi Anti Hoax dan Ujaran Kebencian yang diadakan di Mabes Polres Lampung Timur. dengan demikian diharapkan dapat menciptakan situasi yang kondusif Jelang pilkada ini”harapnya..

Sementara itu Sekretaris PWI Lampung Timur Musannif Effendi mengatakan, Pelaku penyebar Hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Di dalam pasal itu disebutkan, “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

“Jadi mulai sekarang setiap orang harus berhati-hati dalam menyebarkan pesan
berantai lewat perangkat elektronik. Sekarang banyak pesan pendek (SMS), maupun e-mailhoax yang berseliweran. Yang mem-forward, disadari atau tidak, juga bisa kena karena dianggap turut mendistribusikan kabar bohong,” jelasnya. (andri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *