123 views

Bahas AKI Dan AKB, Bupati Tantri Dan Dokter Spesialis Beraudiensi

 

 

Probolinggo, – Dalam rangka membahas permasalahan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Probolinggo, Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE melakukan audiensi dengan para dokter spesialis yang ada di Kabupaten Probolinggo, Selasa (13/11/2018) pagi.

Kegiatan yang dilaksanakan di ruang kerja Bupati Probolinggo di Kantor Bupati Probolinggo ini diikuti oleh para dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anak dan dokter umum yang ada di Kabupaten Probolinggo. Yakni, dr Yessy Rachmawati SpOG, dr Alam S Hidayat, SpOG, dr. Donny Rahadianto SpOG, dr Ayu R, SpOG, dr Amalia, SpOG, dr Catur Prangga Wardana, Sp.A dan dr Made Suderata SpA.

Selain Bupati Tantri, audiensi bersama dokter spesialis di Probolinggo ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono dan Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan dr. Endang Asutui.

“Kegiatan ini berawal dari keprihatinan saya sebagai kepala daerah. Tetapi prihatin saja tidak cukup. Karena butuh gerakan yang konkrit terkait gerakan dan issu di Kabupaten Probolinggo,” kata Bupati Tantri.

Terkait angka kematian ibu dan bayi, Bupati Tantri menyampaikan agar hendaknya menjadi PR bersama. “Saya ingin menampung aspirasi dokter spesialis sekalian yang bergelut berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat. Sebagai pemegang kebijakan anggaran mampu memfasilitasi kegiatan yang ada di masyarakat sehingga AKI dan AKB mampu kita tekan. “Kami sebagai pemimpin kebijakan yang efektif utk menekan angka kematian ibu dan bayi,” jelasnya.

Bupati Tantri meminta agar segera dikaji dan disusun terkait Satgas Penakib. Yang jelas ada program dan sistem yang konkret sehingga mampu mengakomodir para spesialis dan berkontribusi bagi seluruh pihak yang berwenang untuk memberikan pendekatan terhadap semua permasalahan. “Nanti bisa berkomitmen bersama siapa berbuat apa. Sehingga setiap permasalahan AKI dan AKB sama-sama bisa diminimalisir,” pungkasnya.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono mengatakan setiap menemukan ibu hamil maka pihak kesehatan akan langsung melakukan screening. Terlebih di RSUD Waluyo Jati Kraksaan sudah dilengkapi CD4 dan puskesmas Antiretroviral therapy (ART).

“Kita sudah berusaha untuk menjaring penderita HIV. Mulai pencegahan sampai pengobatan. Hanya saja bidan-bidan yang bisa menangani masih belum maksimal. Oleh karena itu nantinya akan ada program bidan magang di rumah sakit,” terangnya.

Sementara dr Made Suderata menyampaikan bahwa mulai tahun 2006 hingga 2018, AKI posisinya masih belum bergerak. Bayi yang lahir dibawah 2500 gram yang dilahirkan ibu yang banyak masalah gizi dan penyakit. Tentunya kalau kita ingin menurunkan AKI harus memberantas BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).

“Faktor BBLR ini karena lahir prematur dan pertumbhhan janin terhambat dalam kandungan. Kalau bisa deteksi dini sejak dalam.proses kandunhan maka kelalaian BBLR bisa kita cegah,” jelasnya.

dr. Donny Rahadianto SpOG mengatakan masalah awal tahun 2016 dengan tahun terakhir berbeda penyebabnya yakni pendarahan dan infeksi. Tetapi tindakan penyelamatan sudah cukup bagus. Namun sekarang tertinggi penyebab AKI dan AKB adalah penyakit-penyakit penyerta. “Misalnya ibu hamil hipertensi, ikutannya kelainan jantung dan stroke. Hipertensi kalau lama akan mempengaruhi pertumbuhannya,” ujarnya.

Selanjutnya dr Ayu R, SpOG sangat terkejut dengan kasus ibu-ibu hamil yang menderita HIV/AIDS. Oleh karenanya butuh penanganan yang serius dari semua pihak karena bayi yang terkena HIV/AIDS menjadi penyumbang BBLR.

Sedangkan dr Catur Prangga Wardana, Sp.A yang sehari-hari bertugas di RSUD Tongas mengaku bahwa pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin terjun langsung ke masyarakat yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit. “Kita akan aktif bagaimana AKI turun. BBLR musuh utama spesialis anak. Kami pernah berdiskusi sampai saat ini penyebab BBLR tertinggi adalah infeksi. Apabila angka infeksinya tinggi maka akan menyumbang BBLR,” katanya.

Kemudian dr Alam S Hidayat, SpOG menyampaikan bahwa BBLR ada yang bisa dicegah dan tidak. Pendarahan pada kehamilan muda adalah BBLR yang tidak bisa dicegah. Mau tidak mau kalau membahayakan sang ibu, maka bayi akan dilahirkan dengan prematur.

“Salah satu penyebabnya adalah pada alat kontrasepsi. Oleh karena itu program KB harus diperkuat, sehingga bisa dihindari dari awal. Banyaknya kasus HIV AIDS, salah satu program untuk mencegah adalah pemberian anti virus maupun tidak melakukan pemberian ASI,” tegasnya.

Terakhir dr Yessy Rachmawati SpOG dalam melakukan penanganan proses kehamilan hingga melahirkan dibagi dalam tiga bidang meliputi penanganan prenatal, natal dan post natal.

“Untuk penanganan prenatal, dilakukan dengan deteksi dini melalui kader yang dilanjutkan melalui sms ke puskesmas hingga terdata ibu hamil sampai persalinannya. Natal untuk mendeteksi semua ibu hamil lewat screening dan post natal dilakukan saat ibu hami setelah 40 hari melalui penggalakan program KB,” katanya. (Pu2t)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *