143 views

KABAR PROBOLINGGO: Manfaat Reuni Teori Yuyun Armi Alumni SMP 1 Pajarakan

Probolinggo, MA – Munculnya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter makin mempermudah dalam mengikat tali silaturahmi yang sudah terputus puluhan tahun. Salah satunya pengalaman penulis sendiri yang sudah berlangsung selama 22th.

Biasanya poin reuni di Indonesia tujuannya adalah 1. menjalin silaturahmi teman dan guru, 2. mengenang masa-masa sekolah, 3. Membahagiakan teman dan guru. Tetapi kemudian apakah sama tujuan reuni di negara kita dengan di LN.

Menurut ahli Etnografi dan komunikasi Yuyun Armi Alumni SMP 1 Pajarakan “Kalau di Indonesia dari kecil kita sudah terbiasa dengan grup culture, tapi kalau di luar negeri mereka lebih individual, jadi mereka lebih kepada traksaksional. Di luar negeri, masyarakatnya bertemu hanya karena ada urusan. Kalau kita, tidak seperti itu.

Orang Indonesia ketemu bukan karena ada urusan, tapi karena hubungan pertemanan dengan grup culture. Dari kecil kita sudah mengenal yang namanya keluarga besar dan kita merasa dekat dengan mereka semua. Nah, ini berbeda dengan situasi di luar negeri. Mereka hanya mengenal keluarga inti. Jadi kita bisa membentuk reuni dengan mudah karena sejak kecil kita sudah terbiasa dengan istilah kumpul-kumpul. Kalau di luar negeri, mereka harus ada tujuan untuk itu.

Perkembangan teknologi komunikasi juga sangat membantu proses tersebut diatas. Sekarang di era generasi ke tiga dimana Telepon, Text dan gambar bisa disajikan dalam genggaman mekanisme pengorganisirannya-pun semakin mudah. Bisa dilakukan dengan beberapa cara Group WA, FB dan Twitter.

Tetapi harus di ingat bahwa reuni harus mempunyai tujuan misalnya saling membantu teman, guru bertukar pengalaman, wawasan, hobby, olah raga bahkan kerjasama bisnis ataupun untuk mendapatkan pasangan. Untuk hal mendapatkan pasangan, penulis pernah menemukan hal yang terakhir ini, perjodohan bisa terjadi melalui acara reuni.

Tetapi anehnya reuni diera facebook inipun semakin hari semakin membudaya di negeri kita. Banyak kritik dalam penyelengaraan reuni dari yang hanya hura-hura semata sampai kumpul dan makan bersama tanpa ada tujuan. Hal ini menurut ahli Etnografi dan komunikasi Yuyun Armi menandakan bedanya budaya bangsa kita dengan orang eropa dalam memandang reuni.

Justru dengan adanya reuni, orang itu punya semangat lagi untuk punya peranan seperti dulu. Tapi sebaliknya, seseorang itu dulunya di komunitas biasa-biasa saja, justru mereka malah mau berkumpul karena setelah 20 tahun orang itu menjadi orang baru. Sehingga dia ingin sekali mengadakan reuni. Maka dari situlah akan terbentuk komunitas baru tapi dengan orang-orang lama.

Membentuk komunitas tentu lebih dari sekedar mengumpulkan kartu nama, meminta alumnus mengisi formulir registrasi. Pembentukan komunitas secara profesional bisa dimulai sejak awal mengirimkan undangan untuk reuni. Mencari tahu needs and wants dari tiap anggotanya, untuk kemudian didisainkan sebuah acara reuni akbar yang sesuai dengan harapan. Memberikan insentif member-get-member bagi setiap alumni yang berhasil membawa teman hadir di acara. Saat ini banyak komunitas baru yang muncul dan setelah itu tenggelam kembali. Menciptakan komunitas mungkin mudah, tetapi, ternyata, pemeliharaannya yang sulit. Salah satu parameter komunitas yang solid adalah yang anggotanya memiliki Sense of Community (SoC) yang tinggi.(Pu2t/Rohim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *