122 views

KABAR PROBOLINGGO : Pemkab Terima Tujuh Calon Dokter Hewan UWKS

 

Probolinggo, MA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) menerima kedatangan 7 (tujuh) calon dokter hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) yang melakukan koasistensi kesmavet (kesehatan masyarakat veteriner) di Kabupaten Probolinggo. Mereka akan berada di Kabupaten Probolinggo mulai 14 hingga 25 Januari 2019.

Kedatangan para sarjana kedokteran hewan ini diterima langsung oleh Kepala DPKH Kabupaten Probolinggo Endang Sri Wahyuni, Senin (14/1/2019). Turut mendampingi dalam kesempatan tersebut sejumlah pejabat di lingkungan DPKH Kabupaten Probolinggo.

Kepala DPKH Kabupaten Probolinggo Endang Sri Wahyuni mengharapkan agar ketujuh calon dokter hewan ini melaksanakan tugas koasistensi dengan bersungguh-sungguh di bidang kesmavet, sehingga menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan dalam meraih gelar dokter hewan.

“Saya menghimbau agar para mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tidak malu bertanya kepada pembimbing di lapangan terkait kesmavet (kesehatan masyarakat veteriner),” katanya.

Selanjutnya para calon dokter hewan ini dibimbing langsung oleh Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) DPKH Kabupaten Probolinggo drh Nikolas Nuryulianto dengan mengunjungi pasar tradisional Leces yang meraih predikat 1(pertama) tahun 2017 terkait kios daging tingkat Kabupaten/Kota se-Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan aturan terkait kios daging dan peredaran daging yang dikonsumsi harus mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 95 tahun 2012 Tentang Kesmavet (Kesehatan Masyarakat Veteriner) dan Kesrawan (Kesejahteraan Hewan), khususnya pasal 3 ayat 1. Serta Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Niko juga menyampaikan ciri-ciri bahan pangan asal hewan (daging) yang baik dan layak dikonsumsi oleh masyarakat. “Saya menghimbau kepada para calon dokter hewan agar selalu menjaga hubungan baik dengan para pelaku usaha di pasar tradisional, khusunya bahan pangan asal hewan dengan jalan silaturahim. Serta tidak bosan mendengarkan harapan para pemilik kios daging,” ungkapnya.

Para mahasiswa koas juga diajak ke RPH (Rumah Potong Hewan) Leces. Karena mereka nantinya selama di Kabupaten Probolinggo juga akan bertugas membantu petugas teknis RPH Leces dalam mengawasi dan memeriksa pemotongan di RPH Leces.

“Kepada para mahasiswa saya berpesan agar selalu mempelajari dasar hukum (perundangan-undangan) yang berlaku sehingga setiap penyampaian dan tindakan ada dasarnya dan bukan berasal dari pendapat pribadi,” pintanya.

Menurut Niko, koas itu kepanjangannya koasistensi. Yakni salah satu tahapan yang harus dilalui oleh sarjana kedokteran hewan sebelum meraih gelar dokter hewan. Mereka bertujuh semuanya sudah S1 (SKH/Sarjana Kedokteran Hewan), namun belum meraih gelar drh.

“Untuk itu mereka harus koasistensi di lapangan, salah satunya selain mereka koas di laboratorium, mereka akan membantu pengawasan dan pemeriksaan pemotongan di RPH, mengawasi peredaran bahan pangan asal hewan di pasar tradisional serta mengawasi dan mempelajari pengolahan bahan pangan asal hewan (susu stik, susu permen, susu abon dan lain sebagainya),” jelasnya.

Melalui kegiatan ini Niko mengharapkan para calon dokter hewan tersebut lebih mengetahui kondisi di lapangan dan solusinya bukan hanya teori. “Karena yang diperlukan di lapangan adalah mengetahui pola pikir masyarakat dengan pendekatan persuasif sehingga program pemerintah berjalan dengan baik,” pungkasnya.(Pu2t)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *