147 views

KABAR PROBOLINGGO : Antara Belajar dan Seniman :Oleh Viana

 

Probolinggo, MA – Seniman berkutat di wilayah industri kreatif, berhasil-tidaknya bergantung pada daya kreatifitas seniman itu sendiri. Tantangannya cukup berat, karena daya kreatifitas dibatasi oleh tingkat kecerdasan seniman itu sendiri, dan juga kondisi lingkungan yang ada.

Semasa kuliah, seorang mahasiswa seni mungkin relatif tidak banyak berfikir tentang kebutuhan hidup, bayar kost-kostan, makan, dan kebutuhan-kebutuhan kampus yang lain. Karena semua kebutuhan itu sudah ter-cover oleh orang tuanya atau orang yang membiayainya. Apalagi bagi mahasiswa yang mampu secara finansial, semua kebutuhannya tercukupi, sehingga melepas ide-ide liarnya akan sangat leluasa, tanpa hambatan perut lapar.

Namun sebagai sarjana seni yang meneguhkan dirinya menjadi seniman sejati, dan single fighter dalam menghadapi hidup, seorang seniman mau tidak mau, suka tidak suka, harus realistis dan pragmatis dalam menyikapi hidup yang demikian kompleks. Demikian pula seniman otodidak, yang perjalanan kreatifitasnya tanpa melalui bangku kuliah. Penuh lika-liku, dan harus tetap cerdas merespons apa saja yang ada di hadapannya.

Viana Safara kepada media Abpedsi.com mengungkapkan,” Seorang penyair atau pelukis, maupun penyanyi dengan segudang ide atau seorang pencipta lagu dengan sejuta komposisi nada akan mudah merealisasikan ide-idenya jika kebutuhan pragmatisnya tercukupi. Bagaimanapun semua itu membutuhkan enerji yang cukup untuk menggerakkan fikiran kreatifitasnya. Maka pemenuhan kebutuhan pragmatis bagi seorang seniman menjadi sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan eksplorasi ide atau gagasa,” terang Viana

Seniman secara idealis harus mampu mengatasi tantangan pragmatisme hidup. Tanpa teratasi kebutuhan hidupnya, kreatifitas dari ide-idenya akan ’terganggu’ dan bahkan stagnan. Apalagi dengan tanggungan keluarga dan anak-anak yang membutuhkan biaya. Ada saat-saat seorang seniman me-liarkan ide-ide kreatifnya, dan ada saat-saat harus berurusan dengan dunia pragmatis. Ini membutuhkan pola manajemen tersendiri, dan seorang seniman harus tegas dan disiplin. Memang, disiplin perlu dipaksakan,” ungkap Viana

Urusan ’dapur’ yang saya maksud pada judul di atas adalah hal-hal pragmatisme hidup, di luar idealisme seorang seniman. Bukan berarti menanggalkan idealisme ketika sedang mengurus kebutuhan sehari-hari, tapi mengelola waktu, enerji dan fikiran secara proporsional untuk kebaikan bersama. Kebaikan kehidupan pragmatis, dan juga idealisme. Kedua hal itu akan ter-cover secara proporsional dan optimal. Karena kita sama-sama mempunyai 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu,” tutur Viana

Namun jangan salah, pemenuhan kebutuhan pragmatis jika kebablasan, juga akan ’mengganggu’ perhatian seniman pada idealisme berkarya. Seorang seniman musik yang pada mulanya menjadi tourist guide, kemudian ’terlena’ dengan bisnis dagang dengan buyer asing, sehingga ’lupa’ pada karya seni. Ini bisa terjadi. Pada titik tertentu dia tidak mampu mengalokasikan waktu untuk berkarya. Hanya sesekali saja bermusik, dan hanya untuk mengisi waktu senggangnya. Porsi hidupnya dominan sebagai pedagang, bukan seniman,” imbuh Viana

Semua itu bergantung pada pola fikir seniman dalam memilah dan memilih waktu dan enerji dalam berkarya atau bekerja. Ini pun tak lepas dengan pola manajemen personal seniman itu sendiri. Jadi, seniman yang mampu mengoptimalkan berkarya tanpa meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pragmatis akan berada alam posisi seimbang, tidak hanya makan mimpi, namun berkarya dalam ruang kesadaran pragmatis. Ini baru keren,” pungkas Viana (Pu2t)

Penulis : Mahfudz
Editor : Senopati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *