108 views

KABAR PROBOLINGGO : Dinas Kesehatan Probolinggo Gelar Surveillance TBC

 

Probolinggo, MA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Rabu (3/7/2019) menggelar Surveillance Strengthening At Distric Level atau TBC. Kegiatan ini didanai oleh Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2019.

Sasaran peserta surveillans TB adalah pengelola program TB yang belum melakukan evaluasi pada pencatatan pengobatan pasien TB melalui SITT. Terdiri dari 33 puskesmas dan 3 rumah sakit di Kabupaten Probolinggo.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Veronica mengungkapkan secara umum kegiatan ini bertujuan agar diperoleh data yang valid dalam sistem informasi Tuberkulosis terpadu difasilitas kesehatan dalam pelayanan penatalaksanaan kasus TB oleh SDM yang berkompeten.

“Setidaknya nantinya diperoleh data TB yang valid di Kabupaten Probolinggo dan evaluasi pencatatan sistem informasi Tuberkulosis terpadu di Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Liliek Ekowati mengatakan Tuberkulosis (TB) saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia yang telah berkembang sejak tahun 1995.

“WHO melaporkan bahwa di tingkat global terdapat sekitar 9,6 juta kasus TB baru dengan 3,2 juta kasus diantaranya adalah perempuan pada tahun 2015. Sebanyak 1,5 juta kematian terjadi karena TB, dimana 480.000 kasus adalah perempuan,” katanya.

Menurut Liliek, dari kasus TB tersebut ditemukan 1,1 juta (12%) HIV positif dengan kematian 320.000 orang (140.000 orang adalah perempuan) dan 480.000 TB Resistan Obat (TB-RO) dengan kematian 190.000 orang. Dari 9,6 juta kasus TB baru, diperkirakan 1 juta kasus TB anak (dibawah usia 15 tahun) dan 140.000 kematian/tahun.

“Di Kabupaten Probolinggo jumlah kasus TB pada tahun 2018 sebanyak 1.697 kasus. Dimana terdapat 603 kasus diobati sampai sembuh, 553 kasus pengobatan lengkap, 11 kasus gagal pengobatan,” jelasnya.

Liliek menerangkan, salah satu penyebab utama belum berkurangnya TB adalah belum memadainya tata laksana TB sesuai dengan standart baik dalam penemuan kasus/diagnosis, paduan obat, pemantauan pengobatan, pencatatan dan pelaporan.

“Oleh karena itu, untuk mendapatkan data yang valid dan benar diperlukan validasi antara data TB yang ada di puskesmas dengan data yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (Senopati)

Jurnalis : Mahfudz
Editor : Senopati
Publisher : Redaksi
Copyright @ 2019 Abpedsi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *