114 views

KABAR PROBOLINGGO : Kembangkan Inovasi Pembibitan Tembakau Pola Pot Tray

Probolinggo, MA – Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan bibit tembakau bersertifikat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo mengembangkan inovasi pembibitan tembakau pola pot tray (nampan plastik).

Pengembangan inovasi pembibitan tembakau pola pot tray ini akan dilakukan pada 3 (tiga) Kelompok Tani (Poktan) di Kabupaten Probolinggo. Yakni, Poktan Sumber Rejeki Sumberan Desa Sumberan Kecamatan Besuk, Poktan Arum Desa Gondosuli Kecamatan Pakuniran dan Poktan Karya Satu Desa Alasnyiur Kecamatan Besuk.

Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Nanang Trijoko Suhartono melalui Kepala Bidang Perkebunan Nurul Komaril Asri mengungkapkan hingga saat ini baru ada 2 (dua) penangkar di Kabupaten Probolinggo. Yakni, Kelompok Tani (Poktan) Cempiring Desa Karanganyar Kecamatan Paiton dan Poktan Barokah IV Desa Bucor Kulon Kecamatan Pakuniran.

“Pembibitan tembakau pola pot tray ini dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi ketersediaan benih yang berkualitas dan bersertifikat. Karena selama ini petani menggunakan benih yang asal-asalan. Padahal benih itu 60% yang menentukan keberhasilan, sisanya adalah sistem budidaya dan lain sebagainya,” katanya.

Menurut Nurul, tahun ini rencana areal tanam tembakau se-Kabupaten Probolinggo seluas 10.774 hektar. Dengan asumsi rencana produksi sebesar 12.929 ton dan asumsi produktivitas 1,2 ton/Ha. Rencana areal tanam tembakau ini tersebar di 7 (tujuh) kecamatan potensi tembakau. Yakni, Kecamatan Paiton, Kotaanyar, Pakuniran, Besuk, Krejengan, Kraksaan dan Gading.

“Tentunya dengan luasan tersebut membutuhkan benih yang tidak sedikit. Dimana setiap hektarnya dibutuhkan sedikitnya 20.000 batang benih. Jika rencana areal tanamnya seluas 10.774 hektar, maka dibutuhkan benih sebanyak 215.480.000 batang benih. Kebutuhan benih tersebut sudah dapat terpenuhi, hanya saja tidak semua benih yang ditanam petani bersertifikat. Sehingga hasil yang diperolehpun tidak maksimal,” terangnya.

Nurul menyampaikan pentingnya penggunaan benih bersertifikat agar hasilnya bisa bagus dan produksinya tinggi. Namun karena minimnya benih yang bersertifikat, maka petani menggunakan benih yang asal-asalan dan tidak jelas asal usulnya. “Hal inilah yang melatarbelakangi dikembangkannya inovasi pembibitan tembagau dengan menggunakan pola pot tray,” tegasnya.

Lebih lanjut Nurul menerangkan, kalau yang sistem tradisional petani menanam bibitnya di hamparan lahan yang terbuka. Begitu umurnya sudah cukup, maka benih tersebut dicongkel untuk ditanam pada lahan yang sudah disediakan. Namun akibat dari dicongkel tersebut, banyak akar benih yang rusak dan menyebabkan pertumbuhannya kurang sempurna.

“Tetapi dengan inovasi pembibitan tembakau pola pot tray, proses pembibitannya dilakukan secara isolasi dan diberikan pengerodongan agar saat terjadi pembuahan tidak tercampur dengan tembakau lain yang tidak jelas asal usulnya. Harapannya pada saat penanaman dan pemindahan di lahan bisa langsung ditanam sehingga tidak merusak akarnya,” ungkapnya.

Keuntungan pembibitan pola pot tray dibandingkan dengan pola tradisional terang Nurul, tidak memerlukan lahan yang luas, perakaran tidak putus saat dicabut sehingga tidak mengalami layu awal tanam, memudahkan pengawasan karena dapat diletakkan di halaman rumah/dekat rumah, penanaman dapat disesuaikan dengan kondisi iklim karena umur bibit di pot tray bisa bertahan sampai dengan 75 hari, keseragaman bibit terjamin serta prosentase hidup lebih tinggi.

“Tahap-tahap pembibitannya diantaranya persiapan tempat pembibitan, pemindahan bibit dan adaptasi serta pemeliharaan bibit. Untuk pemeliharaan bibit ini terdiri dari penyiraman, pemupukan, mengatur naungan (atap), penyiangan, pemberantasan hama dan penyakit serta clipping,” tegasnya.

Dengan adanya pembibitan tembakau pola pot tray ini Nurul mengharapkan bisa menghasilkan benih unggul dan bersertifikat. Ke depan selain sebagian ditanam untuk diri sendiri juga bisa dijual kepada petani lain.

“Nanti prosesnya kami pantau dengan menggandeng UPT Pengawasan dan Sertifikat Benih Jawa Timur untuk mendapatkan rekomendasi benih yang bersertifikat. Dari 3 ini nantinya yang akan direkomendasi 2 poktan tergantung ketelatenan dan keuletan petani,” tambahnya.

Nurul menjelaskan penggunaan benih yang asal-asalan dan tidak jelas asal usulnya sangat rentan terkena berbagai macam penyakit, tidak ada keseragaman petik daunnya karena tumbuhnya memang tidak seragam serta bisa mempengaruhi produksi tembakau.

“Melalui inovasi ini kami mengharapkan petani bisa menghasilkan benih sendiri dan mandiri dengan kejelasan asal usulnya benihnya. Karena dengan penggunaan benih bersertifikat, maka hasil produksinya akan lebih maksimal,” harapnya. (Senopati)

Jurnalis : Mahfudz
Editor : Senopati
Publisher :Redaksi
Copyright @ 2019 Abpedsi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *