119 views

Etty Papayungan : Terkait Bansos, Tidak Bisa Diubah Sendiri Tapi Hasil Verifali Dilanjutkan Ke Kemensos

TORAJA UTARA ,MA – Polemik penerima Bansos Rastra (Beras Sejahterah) di Lembang (desa) Salu, Kecamatan Sopai yang terus mencuat dan mengemuka merupakan permasalahan umum yang dialami dari sekian Lembang yang ada di kabupaten Toraja Utara.

Terkait hal ini, Kepala Lembang menyampaikan jika memang ada yang tidak tepat sasaran namun ini kan kami masih dalam tahap perbaikan atau verifikasi data karena ini adalah data yang sudah ada sebelum masuk.

Adanya penerima bansos rastra ini menurut Roni Pata Allo selaku kepala Lembang/Desa (6/7) bahwa penerima Rastra di Lembang salu masih ada yang bersyarat tapi namanya tidak masuk dalam daftar penerima sehingga itu sudah di koordinasikan dengan Dinsos Toraja Utara dan sudah dibicarakan dalam pertemuan bersama babhinkabtibmas.

“Saya sudah sampaikan ke babhinkabtibmas pada pertemuan kemarin bahwa mari kita jalan bersama untuk lakukan verifikasi”, ujar kepala Lembang salu.

Kami juga sudah sering koordinasi ke Dinas Sosial bahwa data nama penerima Rastra di lembang kami banyak yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan, dan hingga sampai sekarang dari Dinsos Torut yang jalan untuk lakukan verivali data, tambahnya.

Roni pun menuturkan jika ada 245 KK penerima bansos sekarang di Lembang salu dari usulan lebih dari 300 KK.

Dan ada beberapa keluarga yang mana dulu dapat raskin tapi sekarang gak dapat lagi antara lain seperti Sattu Palin, Ester Bungan, Nek Doko, padahal di lapangan keluarga tersebut sangat bersyarat sehingga tahun ini saya selaku kepala Lembang sebagai pelayan masyarakat ambil inisiatif untuk berikan bantuan secara pribadi dengan seadanya.

“Caranya ya karena kita prihatin, saya gunakan gaji untuk belikan beras maupun telur dan mie instan karena keluarga tersebut sudah jauh-jauh datang dan sudah gak mampu cari nafkah sehinga melalui Bumlem kita ambilkan baru setelah gajian baru saya bayar gunakan gaji pribadi”, terang Roni.

Dikesempatan yang sama, Lenni Bulaan selaku staff bidang distribusi rastra Lembang salu sampaikan bahwa dalam pemberitaan dikatakan bahwa kesalahan Lembang dan tidak pernah di usulkan, padahal kami sudah usulkan nama tersebut (Maria Tando’) pada tahun 2016 tapi namanya tidak ada keluar.

Secara terpisah, Etty Papayungan, SE, M.Si, yang juga pernah menempati bagian Perencana Madya di Kemensos dan terakhir menjabat Kabid pemberdayaan sosial di dinsos Tana Toraja, mengatakan bahwa dalam hal Data Basis Terpadu memang tidak serta merta bisa diubah jika sudah di terbitkan namun dalam hal ada yang tidak tepat sasaran di lapangan maka itu dilakukan verifali data tiap 6 bulan.

“Ya tidak bisa di ganti sendiri makanya dari kemensos di beri kesempatan tiap 6 bulan untuk verifali data kemudian hasilnya di lanjutkan ke Kemensos dan nanti kalau sudah acc dari Kemensos, baru di bukakan untuk dimasukkan oleh bagian data”, jelas Etty Papayaungan, Senin (8/7/2019).

Lanjut Etty bahwa untuk verifali ini, di lakukan oleh dinas sosial dimana ada pendamping TKSM dan PEKSOS atau PSM namun itu tergantung dinsos karna harus di anggarkan di APBD dinsos.

“Dan terkait Data yang ada selama ini, memang masih data dari statistik tahun 2011 jadi masih data yang di daftar oleh statistik digunakan”, beber Etty Papayungan, SE, M.Si

Dan hal seperti ini sudah seharusnya pemda duduk bersama untuk menyamakan persepsi kalau bisa menghadirkan dinsos bagian ekonomi , para camat bersama kepala Lembang dan Lurah.

(Wid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *