200 views

Kepsek SDN 3 Rantepao Diduga Tidak Transparan Dalam Pengelolaan Dana BOS Tahun 2019

 

TORAJA UTARA, MA – Kembali pengelolaan dana BOS tidak transparan digunakan oleh kepala sekolah dalam kegiatan penerimaan siswa baru dimana kali ini terjadi di SDN 3 Rantepao, kabupaten Toraja Utara.

Hal ini diketahui saat pembagian insentif kepada guru dan pegawai dalam kepanitiaan penerimaan siswa baru yang mana Marthen Sayang Pairunan,S.Pd, selaku kepala sekolah membagikan insentif tersebut dalam bentuk amplop tanpa ada rincian dan tanpa bukti penerimaan.

Beberapa guru dan pegawai mulai resah beserta kesal sehingga membeberkan hal ini ke media-abpedsi.com, hari ini melalui pesan WhatsApp dan via telpon selluler.

“Ini pak, kami punya masalah dimana pembagian insentif kegiatan penerimaan siswa baru tahun ini, kok bisanya semua dalam amplop tertutup terus tidak ada bukti penerimaan kami tanda tangani”, ungkap guru dan pegawai yang enggan disebutkan namanya, Minggu (28/7/2019).

Menurut sumber informasi yang enggan disebutkan namanya bahwa sebelum pembagian insentif dilakukan, kepala sekolah sampaikan jika anggaran untuk insentif sekitar 60 jt rupiah namun setelah dibagikan dan masing-masing guru serta pegawai mengecek sampai dihitung ternyata totalnya hanya sekitar kurang lebih 32 jt.

“Kepala sekolah sempat sampaikan sebelum kami terima insentif tersebut jika jumlah anggaran insentif penerimaan siswa baru tahun ini 2019 sekitar 60 jt rupiah, tapi kami hitung setelah menerima amplop tersebut ternyata hanya sekitar kurang lebih 32 jt”, beber pegawai dan guru.

Dari perilaku kepala sekolah, Marthen Sayang Pairunan,S.Pd tersebut akhirnya para guru dan pegawai mengembalikan amplop berisi insentif karena merasa ada pembohongan dari kepala sekolah akan jumlah anggaran insentif penerimaan siswa baru.

Bahkan informasi yang diterima dari salah satu pegawai di sekolah SDN 3 Rantepao yang enggan disebutkan namanya bahwa bendahara dana BOS saja tidak tahu isi setiap amplop dan berapa jumlah total semua yang digunakan untuk insentif tersebut karena setelah pencairan dana BOS, langsung kepala sekolah mengambil semua dana BOS dari bendahara.

Tak tangung-tangung juga salah satu pegawai disekolah tersebut membandingkan kepemimpinan kepala sekolah yang dulu dimana setiap honor insentif selalu terbuka dan transparan berdasarkan jumlah yang di tanda tangani.
(Wid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *