321 views

KABAR PROBOLINGGO : Mengintip Tradisi ‘Petik Laut’ Di Pesisir Desa Sumberanyar, Paiton

Probolinggo, MA – Masyarakat nelayan di Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, menggelar tradisi tahunan Petik Laut atau Larung Sesaji, Sabtu (3/8/19)

Selain sebagai ungkapan syukur, Petik Laut juga mengandung harapan untuk mendapatkan berkah pada musim ikan selanjutnya. Itulah sebabnya, bagi warga setempat, upacara ini tak boleh terlewatkan dan rela tak melaut selama beberapa hari hanya untuk mempersiapkan acara.

Ritual berawal saat perahu yang akan dilarungkan diisi terlebih dahulu dengan sejumlah sesaji, seperti nasi kuning, lauk pauk, beberapa pakaian, sandal, dan sajadah. Setelah diisi, perahu larung itu diarak mengelilingi desa menuju pinggir laut sambil diiringi sejumlah kesenian, seperti kesenian rukun karya asal madura.

Sesampai di pelabuhan, baru perahu yang diarak-arak oleh warga diturunkan dan dilarungkan ke tepi pantai. Tak sedikit, perahu nelayan mengikutinya hingga sampai akhirnya dilepas ke tengah laut.

Menurut ketua panitia petik Laut Haji Asin kepada media Abpedsi.com mengatakan,” larung sesaji yang dilakukan oleh para nelayan ini sebagai perlambang kebersamaan di kalangan para nelayan. Disamping itu juga sebagai bentuk rasa syukur para nelayan atas rizki yang diterima nelayan dari hasil laut.

“Nilai filosofisnya sebenarnya ini bentuk rasa syukur kami, para nelayan, larung sesaji oleh para nelayan ini ditempatkan di sebuah “bitek” yakni perahu kecil yang terbuat dari pohon pisang dan di dalamnya berisi berbagai jenis makanan, “tutur Haji Asin.

Namun bitek yang dibuat para nelayan di Desa Sumberanyar Pesisir paiton ini berbeda dengan jenis bitek yang biasa digunakan larung sesaji pada umumnya, yakni terbuat dari kayu, sehingga terlihat lebih menarik, karena “bitek” ini persis seperti miniatur perahu mesin motor yang digunakan para nelayan di pesisir pantai Desa Sumberanyar, Paiton.

 

Sebelum bitek dilarung, masyarakat menggelar doa bersama yang dipimpin oleh tokoh masyarakat agama setempat dengan harapan upaya yang mereka lakukan akan menambah penghasilan tangkapan nelayan disana di masa-masa yang akan datang.Bau kemenyan dan kembang tujuh rupa seolah menambah suasana doa masyarakat nelayan ini semakin hikmat,”ungkap Haji Asin

Menurut Haji Fadli, semua jenis sesajen yang ada di dalam bitek itu sebenarnya mengandung nilai filosofis kehidupan sehari-hari.Kembang tujuh rupa melambangkan jumlah hari dalam seminggu, yakni sebanyak tujuh hari. “Dan kembang itu kan harum, maksudnya kita berharap agar kehidupan kita senantinya bermanfaat, memberikan rasa harus kepada sesama,”pungkasnya Haji Asi. (Senopati/Hari irama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *