181 views

Ritual Meminta Berkat Dan Perlindungan Kepercayaan Hindu Toraja

 

TANA TORAJA,Media-Abpedsi – Aluk atau Kepercayaan dalam Hindu Toraja digelar di Tambunan, kecamatan Makale Utara, Tana Toraja untuk meminta berkat dan perlindungan bagi pemerintah hingga masyarakat, Kamis (22/8/2019).

Ritual ini dihadiri oleh Nicodemus Biringkanae selaku Bupati Tana Toraja, Kadis Pariwisata, Kadis Kebudayaan, Camat Makale Utara, dan Lurah Tambunan, beserta tokoh adat dari beberapa wilayah Toraja.

Salah satu ritual Meminta berkat dan perlindungan dalam kepercayaan Hindu Toraja (Aluk Ta/Aluk Todolo) yang dilaksanakan ini adalah ritual “Manta’da”.

Manta’da sendiri dikenal sebagai ritual yang di laksanakan untuk meminta berkat serta perlindungan kepada leluhur dan kepada Tuhan Pencipta dengan membawa sesajen.

Adapun sesajen yang menjadi bagian persembahan yakni sirih, babi, beras, serta air dan ritual manta’da inipun harus dilakukan di bagian sebelah barat dari rumah bahkan dilaksanakan saat matahari sudah berada pada sebelah barat (sore)

Dan setelah tiga hari kemudian dianggap lengkap jika dilengkapi dengan ayam berwarna orange kekuningan dan kakinya berwarna putih (manuk rame) dengan jumlah 3 ekor dimana 1 ekor untuk leluhur dan sang pencipta sedangkan 2 ekor untuk masyarakat yang hadir untuk dimakan bersama.

Namun sebelum dimulai proses memasak semua sesajen diawali proses membeli air di sumur (Mangalli Wai Dio Bubun) dengan membawa ayam rame kaki putih dengan cara beribadah ke dewa bertujuan untuk meminta air tetap bersih dan berkecukupan.

Menurut Matius Ampulembang selaku penyuluh agama alukta (Hindu) bahwa kelengkapan sesajen (ma’ pesung) yakni pangngan (sirih), tepung beras yang dimasak dalam bambu, kalussung/kaledo berisi beras yang dibungkus daun pisang berbentuk kerucut dan dimasak, beras ketan putih (ma’kurinni) yang dimasak dalam belanga tanah, dan Belundak (nasi yang dibungkus pucuk daun enau) serta seekor babi.

Babi yang di piong (dimasak dalam bambu) selain dipersembahkan, juga ada yang dibagi ke tokoh masyarakat dan tokoh adat serta masyarakat untuk dimakan bersama.

Sedangkan Pantitik/pangiki’ yang di piong menurut Matius Ampulembang, itu di khususkan untuk leluhur dan sang pencipta kemudian untuk babi yang disembeli untuk dipersembahkan harus babi hitam pekat.
(Widian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *