471 views

KABAR LAMTIM – Tidak Dapat Difungsikan Untuk Petani. Bangunan Bendungan Di Desa Labuhan Ratu VII Rusak

LABUHAN RATU, (MA)–Bangunan bendungan di Desa Labuhan Ratu VII, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur Sudah Rusak Bahkan Berdampak Ambrol, Padahal bendungan yang pembangunannya dibiayai pemerintah ini belum genap tiga bulan berdiri. Sabtu (4/1/20).

Bangunan Terlihat menyerupai jembatan dan diberi empat pintu besi yang bermanfaat untuk mengatur air, Tapi pintu besi sebagai pengatur air itu justru telah rusak akibat tidak mampu menahan debit air, Lalu jembatan yang juga sebagai penyangga pintu nyaris ambrol karena sudah tidak merekat dengan jembatan.

“bangunan ini belum lama belum ada tiga bulan, sekarang sudah rusak tidak bisa difungsikan,” ujar Kamali, pemilik sawah di sekitar bendungan tersebut.

Bangunan pintu air memang berada di Desa Labuhan Ratu VII perbatasan dengan Desa Braja Asri, Di saat musim kemarau petani tidak bisa menggarap lahan karena air sungai tidak sampai mengalir ke sawah, sehingga dengan adanya pintu air maka pintu air bisa menahan air dan air bisa mengaliri ke sawah. “Tapi belum sempat dimanfaatkan malah sudah rusak,” Ujar Kamali.

Kamali juga mengatakan diduga pintu besi tersebut rusak akibat tidak mampu menahan debit air dan berimbas pada jembatan penahan pintu rusak dan nyaris ambrol. Ucapnya

Jika bangunan penahan air tersebut dibangun secara kokog dan bisa difungsikan, maka sekitar 20 hektare sawah di desa Labuhan Ratu VII dan juga sawah yang berada di dekat bendungan yang sudah masuk desa Braja Asri tersebut tidak akan kesulitan air di musim kemarau dan bisa bercocok tanam.

“Harapan petani pintu air bisa diperbaiki kembali, pembangunannya harus di sesuaikan dengan debit air” jelas Kamali.

Sugeng Ketua Gapoktan Surya Tani Desa Labuhan Ratu VII menjelaskan kepada media-abpedsi.com, Bantuan itu Dari Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dengan anggaran Rp.90 Juta yang diajukan oleh kelompok tani harapan Mulai pekerjaan pada 29 November 2019 lalu.
Selesai pembangunan pada 3 Desember 2019

Bangunan masih tiga hari selesai sudah di terjang air dengan debit tinggi, logikanya kalau bangunan itu asal-asalan pasti sudah jebol dan ambruk, tapi kenyataan nya hanya bagian pintu air saja yang rusak.

“Memang saya akui ini kesalahan petugas kami, karena pintu air tidak dibuka oleh petugas pengairan yang harusnya dibuka, di saat hujan deras, debit air tinggi tidak kuat menahan air ya akhirnya pintu air rusak, petugas pengairan pada saat hujan sudah sempat membuka tapi sudah tidak kuat menahan debit air yang deras” ucap sugeng

Lalu kami musyawarah dengan kelompok tani dan petugas pengairan untuk membuat surat kesepakatan, akan diperbaiki kelompok tani harapan, dibuat 18 desember 2019 lalu,

“yang jelas, setelah kemarau tiba akan di perbaiki dengan dana swadaya dari kelompok tani harapan dan anggota pengairan lainnya, perkiraan Rp. 5 Juta Cukup nanti pekerjanya bergotong royong” jelas sugeng

(BN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *