180 views

Air Terjun Purba Tirai Bidadari, Keindahan Tersembunyi Dari Desa Jangkang

Probolinggo, MA – Kabupaten Probolinggo memang menyimpan potensi wisata alam yang seakan tidak pernah habis, mulai dari wisata bahari sampai panorama alam pegunungannya sama-sama memiliki pesona yang menakjubkan dan digemari banyak wisatawan.

Munculnya destinasi-destinasi wisata baru yang tersebar di berbagai penjuru wilayah Kabupaten Probolinggo dalam 5 (lima) tahun terakhir membuktikan bahwa masih begitu banyak deretan spot wisata alam yang menunggu untuk dieksplor dan dikembangkan.

Oleh sebab itu sampai detik ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui program-program prioritas pendukung sektor wisata terus berupaya untuk mendorong masyarakat dan pemerintah desa agar lebih berperan aktif dan mandiri dalam pengelolaan dan pengembangan potensi wisata di wilayahnya.

Setelah booming air terjun Jaran Goyang dan air terjun Kalipedati di Kecamatan Krucil pada tahun 2019 yang lalu, ada satu lagi spot wisata air terjun yang bakal menyusul dan rupanya akan menjadi salah satu spot wisata andalan di Kabupaten Probolinggo.

Air Terjun Purba Tirai Bidadari mungkin belum banyak diketahui orang, bahkan sampai saat ini namanya saja sangat jarang didengar. Hal ini tidak mengherankan pasalnya air terjun purba yang sejatinya berada di wilayah adminsitratif Desa Ranugedang Kecamatan Tiris ini sangat tersembunyi dan relatif sulit untuk di akses.

Namun berbeda jika dilalui dari Desa Jangkang yang ternyata memiliki jalur yang lebih mudah dilalui, tepatnya pada Dusun Lalangan RT 01 RW 01. Spot air terjun purba ini hanya berjarak tiga kilometer dari pusat Desa Jangkang, dimana setengah jalurnya harus ditempuh dengan jalan kaki melalui areal perkebunan masyarakat dan hutan bambu Perhutani seluas setengah hektar.

Selama ini, satu-satunya cara untuk bisa menikmati keindahan tersembunyi dan terasing ini adalah dengan memanfaatkan layanan wisata arung jeram yang berada di Desa Ranugedang. Air terjun ini juga menjadi spot favorit bagi penggemar olahraga air deras ini. Bahkan mereka juga sering menyebut sebagai Green Canyon Probolinggo, karena memang sepanjang aliran sungai ini berwarna kehijauan dan berhias ngarai tebing terjal dan berukir-ukir.

Menariknya air terjun yang mengucur langsung pada permukaan air sungai ini terbentuk dari 16 titik mata air yang berada pada puncak tebing. Aliran deras airnya yang mampu menembus tebing kemudian secara alami membentuk gugusan stalaktit dengan ukuran yang bervariasi sehingga menyerupai lorong panjang mirip goa. Belum ada penelitian lebih lanjut tentang perkiraan usia stalaktit ini, namun melihat ukuran dan panjangnya yang hampir menyentuh permukaan sungai diperkirakan proses alamiah ini telah berlangsung sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Sebelumnya nama Air Terjun Pelangi dan Goa Kelelawar juga sempat disematkan pada kawasan tersebut. Hal ini bukannya tanpa alasan pasalnya kawasan ini ternyata juga menyimpan fenomena alam lain yang cukup langka dan spektakuler, yakni penampakan bias-bias pelangi yang bisa dilihat pada setiap pagi dan sore hari ketika matahari sedang bersinar terang. Tidak hanya itu saja, lorong stalaktit yang mirip goa ini ternyata juga dihuni ribuan kelelawar yang terlihat aktif keluar masuk goa.

Bagi penikmat petualangan dan pemburu keindahan fenomena alam, tentu menjelajahi spot wisata semacam ini akan menjadi agenda wajib. Oleh sebab itu Pemerintah Desa Jangkang bersama LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dan pemuda berinisiatif untuk membangun spot pandang yang berada tepat di depan Air Terjun Tirai Bidadari. Rencana ini sekaligus untuk mengenalkan lebih luas potensi wisata yang juga bisa di akses melalui Desa Jangkang tersebut.

Agar lebih representatif, perbaikan dan pelebaran jalur pun dilakukan, penyiapan lahan parkir kendaraan juga telah dilakukan secara swadaya dan gotong royong. Inisiatif ini rupanya juga dimotori oleh Wahid Nurahman, salah satu anggota DPRD Kabupaten Probolinggo yang selama ini memang dikenal getol dalam mendorong pengembangan sektor wisata.

Wahid mengemukakan pihaknya akan terus mensupport siapa saja yang ingin merintis pengembangan wisata. Ia menyebutkan hal ini juga sesuai dengan visi misi Pemkab Probolinggo yang juga terus berupaya untuk membenahi pembangunan sektor wisata. “Sangat disayangkan jika keindahan fenomena alam yang langka ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas. Menurut kami ini sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut,” kata Wahid Nurahman, Minggu (16/02/2020).

“Keindahan panorama air terjun Tirai Bidadari memang sangat pas jika dinikmati dari spot pandang di Desa Jangkang. Dari situ pengunjung dapat secara leluasa melihat keluar masuknya ribuan kelelawar serta menikmati pesona pelangi yang membias diantara derasnya air terjun pada tebing stalaktit itu,” imbuhnya.

Sementara terpisah, Hasbullah (44), Ketua LMDH Desa Jangkang menjelaskan, karena terletak pada Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) Perhutani, tepatnya pada Petak 62A, KRPH Segaran, BKPH Bermi, membuat Air Terjun Tirai Bidadari ini tetap lestari dan relatif aman dari praktik perusakan lingkungan. Oleh karena itu pihaknya juga berencana tidak akan terlalu banyak merubah bentuk asli kawasan ini.

“Kawasan KPS seluas 36 hektar ini juga didominasi oleh hutan bambu dan vegetasi perintis yang juga berfungsi sebagai penguat kontur tebing sungai. Selain itu kawasan ini juga menjadi rumah bagi satwa liar seperti burung-burung dan primate. Oleh sebab itu kami juga berkomitmen untuk tetap menjaga keamanan dan keutuhannya,” pungkasnya. (Naldi Lero)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *