906 views

Rizal Diduga Dianiaya Oleh Oknum Polisi,Ketum Lsm BARAK NKRI laporkan Ke Propam Polda

 

BANDAR LAMPUNG — Rizal (39) warga Gedung Meneng, Dente Teladas, Tulangbawang melapor ke Bidang Propam Polda Lampung, atas dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum polsek Dente Teladas.

Rizal diduga dianiaya pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, 4-5 Oktober 2019. Matanya pun terlihat lebam, dan tangannya beberapa mengalami luka.

Irawan Selaku Ketum Lsm Barak Nkri dan kerabat rizal mengatakan, ia dijemput paksa dengan DPO Polsek Dente Teladas Saprudin yang merupakan kakak kandungnya di rumah mereka, karena Saprudin merupakan DPO kasus penculikan.

“Jadi memang kalau kakaknya kan DPO, pas ditangkap Rizal lagi sama kakaknya (Saprudin),” ujar Irawan di Mapolda Lampung, Senin 7 Oktober 2019.

Irawan dan keluarga korban mempertanyakan dasar hukum penangkapan dan Penganiayaan Rizal. Memang awalnya Rizal dan kakaknya Saprudin menjadi pelaku penculikan pada 2015, dan Rizal sudah dijadikan tersangka bahkan divonis hingga 14 bulan serta bebas pada 2017 di LP Menggala. Sehingga hanya Saprudin lah yang menjadi DPO, sedangkan Rizal sudah menerima hukuman.

“Kok ini Rizal malah dibawa dan dipukulin sampai babak belur, padahal di sprint penangkapan, kan cuma nama Saprudin bukan Rizal,” katanya.

Irawan menambahkan, Rizal diduga dikenakan pasal Undang-undang Darurat atas kepemilikan senjata tajam, padahal Rizal diamankan di kediamannya sendiri. Bahkan, diduga polisi meminta uang Rp4 juta, agar Rizal bisa dibebaskan.

Sementara Rizal tak bisa banyak bicara, wajahnya masih lebam dan tak bisa berbicara panjang.

Namun ia memaparkan sedikit kronologi penganiayaannya. Awalnya polisi menggerebek kediamannya tanpa permisi terlebih dahulu.

“Karena takut kirain rampok saya ambil badik lah di rumah saya, terus lari ke belakang rumah, sampe situ sudah ada anggota yang mau nangkep saya, saya bingung salah apa saya,” ujar korban.

Lalu ia dipukuli dengan alasan yang tak jelas, hingga tangannya diborgol oleh aparat. Kemudian Rizal dibawa menggunakan truk dan mulutnya dilakban.

“Saya sempet enggak sadar, tiba-tiba udah di truk, masih dipukulin sampe lah di km 52, saya diturunin dan masih dipukulin, sampe mata saya ditetesin apa gitu, perih enggak bisa ngeliat, disitu saya dipindahin ke mobil kecil,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *